IHSG Naik Tapi Saham Anda Turun?

IHSG naik merupakan salah satu anugerah besar bagi investor di pasar modal. Terutama jika portofolionya merah. Namun demikian keadaan membahagiakan tersebut belum tentu berimbas pada Anda.

Kadang IHSG turu saham Anda turun. Ini masih mending, tapi yang paling parah adalah kalau IHSG naik saham Anda turun, maka portofolio Anda tidak baik-baik saja. Ada yang salah dalam investasi saham yang Anda lakukan.

Penyebab IHSG Naik

Mengapa IHSG naik? Ini yang harus kita jawab terlebih dahulu. IHSG memiliki akumulasi dari kapitalisasi saham-saham yang ada di pasar. Sehingga ketika harganya menanjak naik, maka artinya kapitalisasi pasarnya juga naik.

Nah ketika IHSG turun, penyebab utamanya bukan semua saham harganya turun. Tapi saham-saham bagus ketika itu harganya turun, terutama dengan nilai kapitalisasi besar. Jika lima dari sepuluh saham kapitalisasi besar drop, maka IHSG hampir dipastikan ikut terseret turun.

Begitu juga dengan jawaban kenapa IHSG naik. Sebenarnya lebih dikarenakan saham-saham bagus dengan kapitalisasi besar sedang merangkak naik. Sehingga membuat akumulasi kapitalisasi saham ikut naik juga.

Di sinilah kemudian muncul pertanyaan, apakah berarti ketika IHSG naik, tapi saham kita turun itu pertanda ada masalah pada portofolio kita?

IHSG Naik Turun

Ada satu siklus yang perlu Anda ketahui. Jika IHSG turun, jeblok, maka bukan berarti tidak ada saham yang naik, biasanya saham-saham gorengan saat itu justru beterbangan. Seperti melihat kembang api yang diluncurkan.

Tapi meskipun saham tersebut naik, tidak berimbas pada kapitalisasi pasar yang besar. Karena rata-rata saham gorengan memiliki kapitalisasi di bawah satu triliun, bahkan lebih spesifik lagi di bawah 500 milyar. Cara deteksi saham gorengan bisa dibaca di sini.

Ingat ada big company, big money yang sudah siap ancang-ancang di saham-saham gorengan, juga siap sedia di saham lapis dua dan blue chip. Kerjaan mereka harus dapat untung. Maka ketika IHSG turun, saham itulah yang menjadi objek mereka, gorengan.

Komposisi Saham

Oleh sebab itu ketika Anda memiliki portofolio kemudian turun ketika IHSG naik, perlu jadi perhatian. Jangan-jangan semua saham yang Anda pegang adalah gorengan. Kalau sudah mendapatkan capital gain, Anda masih oke, tapi kalau ternyata ada kerugian di situ Anda harus evaluasi lagi.

Bukan berarti Anda harus memiliki saham dengan kapitalisasi besar semua. Tidak, kapitalisasi besar bukan berarti trend bagus. Tapi Anda harus memiliki saham yang bagus dan sentimennya bagus, plus beli di harga yang bagus. Di lapis manapun.

Contoh Anda membeli UNVR, ini memang saham bagus, tapi kalau belinya di harga 6.000-an, maka bermasalah, seharusnya Anda membeli di rentang 3.900-4.500. Ini masih cukup oke untuk Anda borong. Ini berarti saham bagus beli di harga bagus.

Contoh lagi Anda membeli saham IRRA yang dibeli ketika pandemi, selepas pandemi Anda masih pegang, maka ini harus dipertimbangkan. Saham tersebut berada di sektor kesehatan, momentumnya sudah selesai. Lebih baik pindah tempat. Ini saham biasa tapi momentum tidak bagus.

Contoh lagi Anda membeli saham ANTM di harga Rp900, maka Anda mendapatkan saham biasa, tapi sentimen bagus, yaitu baterai, sehingga melesat tinggi sekali. Apalagi nikel Indonesia sampai disinggung Elon Musk.

Apakah ada saham yang naik turunnya tidak bergantung sentimen, ada. Yaitu saham yang memiliki siklus tetap mengikuti ekonomi global. Ekonomi tumbuh dia tumbuh, ekonomi turun dia turun, contoh MPMX distributor motor, ya seperti ini. Cocok dipegang dalam waktu lama.

ihsg naik
pixabay.com

Evaluasi Porto Anda

Saya kadang bertanya, IHSG naiknya lagi kenceng, saham kamu naik tidak? Jawabannya mengenaskan, masih biasa, bahkan merah. Setelah saya teliti komposisinya gorengan semua. Waduh parah.

Saya punya pengalaman ketika saya sadar bahwa komposisi saham saya salah, maka saya jual banyak saham meskipun merah semua, saya kumpulkan di satu saham yang bagus, fundamental oke, sentimen oke. Waktu itu perbankan.

Akhirnya kerugian yang saya dapatkan dari loss saham-saham lapis tiga tersebut bisa ditutup dengan keuntungan yang saya dapatkan dari capital gain saham perbankan di lapis dua tersebut, yaitu BJBR.

Ingat kunci sukses di IHSG ketika Anda mengetahui kesalahan Anda dalam berinvestasi. Karena biasanya kesalahan yang kita lakukan adalah itu-itu saja, dan berulang terus menerus. Beli saham di harga tinggi jual di harga rendah.

Atau saham dibeli harga turun, saham dijual harganya justru naik. Nah perkara-perkara demikian akan selesai jika Anda melakukan evaluasi lebih dini dan memperbaiki pola atau tata cara dalam investasi di pasar modal.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Copas Ya