Pengalaman Investasi Saham | Dari Rugi hingga Cuan

Pengalaman investasi saham yang kami miliki bisa dikatakan cukup kompleks. Hal ini mengingat kami memulai untuk investasi saham di tahun 2019. Keadaannya cukup volatile disebabkan perang dagang antara Trump dan Xi Jinping.

Kemudian masuk di tahun 2020 yang juga lebih sadis karena ada banyak skandal seperti Jiwasraya, wabah covid-19, dan mulai bergeliatnya pom pomers saham. 

Namun hal itu membuat pengalaman investasi saham pemula yang kami miliki memiliki fase yang cukup lengkap, dari pengenalan, fase investasi saham di saat krisis, hingga fase kebangkitan paska krisis. 

Alasan Kenapa Harus Investasi Saham

Kalau ditanya alasan kenapa harus investasi saham, maka jawaban saya hanya ingin variasi portofolio tabungan. Di tahun 2019 saya mendapatkan beberapa pekerjaan kecil sehingga menyisakan uang.

Sudah membeli emas Antam, namun sayang jika dibelikan semuanya. Seingat saya sisa uang lima juta rupiah saja. Waktu itu saya sudah mendengar tentang saham, tapi tidak mengerti dalam.

Saya tertarik investasi saham hanya karena nasehat seorang pengusaha, “Kalau bisa sisihkan untuk menabung, atau beli emas. Nah kalau ingin lebih baik lagi, jangan hanya ditabung, tapi diinvestasikan, dengan investasi di pasar modal, saham.”

Nah nasehat inilah yang terus terang membuat saya memiliki alasan kenapa harus investasi saham. Hingga kemudian saya nekat mendatangi sekuritas di kota Surabaya yang berbasis pemerintah. Saya anggap aman, gitu aja lah.

Pengalaman Investasi Saham Pemula

Saya benar-benar awam tentang dunia saham. Bahkan dites sama Mas Sekuritas saja tidak bisa jawab. Tidak tahu apa itu emiten, apa itu trading, analisa fundamental, atau analisa teknikal, tidak ngerti sama sekali.

Padahal calon investor harus tahu risiko dan keuntungan investasi saham. Kemudian cowok ganteng itu juga menanyakan, “Mas mau beli saham apa? Ada enam ratus lebih emiten di bursa saham. Bagaimana cara milihnya?”

Saya masih bingung jawabnya, karena tidak tahu. Sampai kemudian dinasehati bahwa yang dijual dalam investasi saham adalah masa depan. Maka logika saya, siapa yang pintar membaca masa depan, dia yang akan menang.

Hingga kemudian saya disarankan dua hal lainnya yang terus saya ingat hingga tulisan ini dibuat. Pertama, kalau memang masih pemula maka pakai mode demo saja. Jadi seperti latihan, jangan langsung masuk. Nanti bahaya. Uang habis.

Begitu nasehatnya, saya ingat betul. Nasehat kedua yang masih saya pegang adalah, asal tidak menggunakan uang hutang atau margin, investasi saham aman. Padahal ketika perkenalan dia sudah menyampaikan tentang margin dan lain sebagainya.

Tiga nasehat ini sangat memberikan pengaruh dalam pengalaman investasi saham pemula seperti saya. Pulang dari sekuritas saya sudah tidak sabar investasi di pasar modal. Meskipun awam.  

Cara belajar investasi untuk pemula

Saya sebenarnya suka menulis, jadi saya suka membaca. Ada pepatah yang saya ingat betul, pengalaman adalah guru yang paling baik. Dengan prinsip ini saya menegaskan untuk mencoba dengan uang lima juta tersebut membeli saham di pasar modal.

Kalau rugi sampai habis saya anggap ikut seminar investasi saham yang biasanya harganya lebih mahal dari itu. Cara belajar investasi untuk pemula yang saya alami demikian. Tanpa babibu, saya langsung beli saham.

Saya mulai dari dana ratusan ribu. Seperti laiknya investor saham pemula, saya niatkan untuk investasi. Karena belum tahu dinamika naik turunnya saham, hingga kemudian saya sadar bahwa tahu-tahu turun dua persen.

Masih anggap wajar, tapi ternyata besoknya lagi turun. Langsung stress. Maklum investor pemula. Jadinya dag dig dug der. Sampai akhirnya saya jual. Eh ternyata naik besoknya. Nah dari situ saya tahu istilah dibeli turun dijual naik. 

Saldo berkurang. Tapi karena saya sudah niat membeli untuk belajar, mulailah saya analisa, baca-baca. Hingga saya membeli ANTM. Waktu itu harga 700-an. Alasannya sederhana, harga masih murah. Naik, saya jual di 800. Begitulah seterusnya.

Pengalaman Rugi Investasi Saham

Hingga saya punya dua pengalaman investasi saham sangat buruk. Pertama saham HMSP. Saya tidak membaca kalau masa depan saham rokok akan turun, pajak, konsumen, saya tidak membaca itu. 

Beli di harga yang menurut saya bawah, tapi ternyata ada pengumuman bahwa pajak rokok naik sampai 20% lebih. Hancur lebih harga sahamnya. Turun terus. 

Pengalaman investasi saham rugi selanjutnya adalah PGAS, juga sama. Saya tidak mampu membaca analisa kalau akan keluar kebijakan harga gas turun oleh pemerintah. Anjlok langsung berhari-hari. 

Dua pengalaman inilah yang membuat saya semakin teliti untuk analisa saham. Sehingga pola investasi saya semakin baik. Saya analisa tidak hanya fundamental tapi juga teknikal. Baca lengkap antara analisa fundamental dan teknikal di sini.

Pengalaman Investasi Saham

Strategi Investasi Pemula – Tidak Rakus

Saya sadar kesalahan utama saya adalah kerakusan yang berlebihan. Saya anggap satu bulan harus dapat 5%. Tapi setelah dihitung jual beli saham, ternyata banyak ruginya. Habis itu saya muhasabah, ada yang salah dalam diri saya. Mendengarkan tausiyah.

Saya pun membaca artikel tentang Warrent Buffet yang ternyata dalam setahun hanya untung sekitar rata-rata 20-30%. Di sinilah saya sadar kalau untung 15% setahun sudah baik, karena deposito hanya kisaran 5-6%.

Akhirnya saya menerapkan prinsip, strategi investasi pemula, jual kalau untung 20%. Tidak peduli selepasnya to the moon. Pokoknya kalau sudah naik 20% saya sell. Padahal analisanya lama. 

Ternyata cukup lumayan. Turun tidak masalah, apalagi yang saya pilih berbasis fundamental, terutama ROE, DER, dan PBV. Tiga ini menjadi basis analisa saya. Berhasil. Target mendapatkan keuntungan 20% dari setiap saham yang saya pegang bisa terealisasi. 

Saya pada akhirnya tidak sepenuhnya menjadi trader, tidak pula jadi investor. Hanya nunggu 20%. Itu saja. Kadang satu bulan sampai. Kadang butuh enam bulan sampai ke angka ini. Hingga pada akhirnya datanglah pandemi. 

Pengalaman Investasi Saham di Krisis

Nah pada akhirnya saya masuk di generasi investor saat krisis. Ketika di akhir tahun 2019, beberapa skandal ditembak oleh hukum, Jiwasraya, salah satu yang paling besar. Saham bergejolak. 

Hingga kemudian datanglah pandemi covid-19, ini pengalaman yang sangat berharga. Dijual tidak bisa. Langsung auto reject bawah berlarut-larut. Saya kemudian berpikir kristis hingga memutuskan untuk top up jumlah portofolio.

Kemudian saham yang tidak ada masa depan saya jual. Seperti RALS, Ramayana Lestari Sentosa, menurut saya toko ritail bangkitnya akan lama. Langsung saya jual, rugi tidak masalah. Juga beberapa saham sejenis lainnya.

Kemudian saya masukkan ke saham perbankan yang akan bangkit pertama kali. Juga saham emas yang sedang hot. Tanpa takut kita masuk. Benar saja, covid reda saham-saham ini langsung menggeliat. 

Belajar dari pengalaman pertama kami tidak rakus. Stay cool, memiliki analisa sendiri, tanpa mengikuti pompomers. Plus berprinsip dalam satu titik harga saya jual. Tidak peduli naik lagi melangit atau tidak. 

Investasi Saham Saat Volatile Naik Turun

Nah di saat tulisan ini saya buat, pengalaman investasi saham cukup luar biasa menegangkan. Saham naik turun sangat dahsyat dibanding sebelum pandemi. Pengalaman saya mengatasi ini adalah tidak ikut arus menjadi scalping, atau traders, plus tidak pernah pamer portofolio. 

Caranya saya mencari saham yang salah harga dan jarang didekati. Contoh waktu itu pada menjauh MPMX, saham yang dikenal jadi salah satu portofolio Sandiaga Uno, alasannya dijual terus sama asing. Memang benar.

Tapi kami berhasil mengambil di harga di bawah 400. Sehingga hingga tulisan ini dibuat sudah mendapatkan kenaikan yang lumayan. Juga saham lain seperti LINK. Hingga akhirnya naik hampir lima puluh persen, kami jual. 

Intinya kami seperti investor. Kalau ada saham di bawah kami akumulasi terus. Karena investor receh ya jutaan saja nilainya, tidak sampai ratusan juta untuk satu portofolio.

Ada uang lagi saya beli lagi, dan terus demikian. Kalau sudah naik, saya biarkan sampai target tertentu. Ini seperti pengalaman pribadi menabung saham.

Kemudian saya pindah ke saham lain yang masih undervalue. Tidak peduli disebut saham gorengan. Nunggu jatahnya dimainkan bandar. Sabar dan tidak rakus. Begitulah prinsip kami. Asal konsisten investasi saham pasti untung kok. 

Yang tidak untung hanya karena tiga hal, pertama rakus. Kedua tidak tahu yang dibeli. Ketiga emosi masih belum stabil. Semoga pengalaman investasi saham ini bisa menjadi pelajaran dan bermanfaat. 

Related Posts

2 thoughts on “Pengalaman Investasi Saham | Dari Rugi hingga Cuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *