Perusahaan Tambang Emas Terbesar di Indonesia dan Cadangannya

Perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia didominasi oleh beberapa nama. Di artikel ini, kita akan mengulas lebih dalam siapa saja pemain besar di pertambangan precious matter ini.

Emas merupakan salah satu komoditas tambang yang termasuk ke dalam precious matter, dan kini dikuasai oleh beberapa raksasa perusahaan emas di Indonesia.

Lalu siapa saja perusahaan tersebut? Kita akan mengulasnya lebih lengkap di bawah ini yang mungkin bisa digunakan sebagai analisa pembelian saham Anda. 

Perusahaan Emas Terbesar Indonesia

Yang pertama dan yang paling besar sampai saat ini, tentu adalah Freeport, milik PT Freeport Indonesia. Data tahun 2018, menunjukkan bahwa Freeport menghasilkan 6.065 ton konsentrat per hari.

Dan jika dikonversikan, dalam sehari, Freeport mampu menambang 240 kg emas per harinya. Gila, itu hanya satu hari. Bisa dibayangkan betapa banyaknya emas tersebut. 

Di posisi kedua, perusahaan tambah emas terbesar di Indonesia ditempati oleh Amman Mineral. Dulu, Amman Mineral dikenal sebagai Newmon, sebelum berganti nama. 

Produksi emas dari tambang yang berada di Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat ini bisa mencapai hingga 100 kilo oz emas per hari, atau 197 juta pounds tembaga selama satu tahun.  Saat ini Amman Mineral sedang melakukan fase tujuh, atau tahap terakhir untuk menambang di Batu Hijau.

Dan berdasarkan laporan dari PT Me Energy International Tbk., yakni induk dari perusahaan Amman Mineral, proses tersebut diprediksikan dapat menggenjot produksi 4,47 miliar pound tembaga dan 4,12 juta oz emas pada akhir tahun 2020 hingga 2021. 

Perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia selanjutnya adalah tambang emas Martabe di Sumatera Utara dan berada di bawah kepemilikan United Tractors. 

Sejak Agustus 2019, akuisisi UNTR resmi menjadi sebesar 95% sebagai pemilik saham dari PT Agincourt Resources yang mengelola tambang emas Martabe. Di sinilah mengapa UNTR memiliki kinerja yang ciamik secara fundamental. 

Produksi di tambang emas ini berada di kisaran 300 sampai dengan 350 ribu oz per tahun. Direktur keuangan United Tractors juga mengungkapkan bahwa jumlah produksi di tambang Martabe ini stagnan selama 2 tahun berturut-turut. 

Sehingga, perusahaan pun memproyeksikan produksi di tahun 2020 masih akan tetap sama, yakni di angka 300 sampai 350 ribu oz per tahun. Namun kalau dilihat sahamnya lumayan melejit. 

Selanjutnya, ada tambang emas Merdeka Copper Gold, dengan produksi emas pada tahun 2019 sempat ditargetkan sebesar 180.000 hingga 200.000 oz. Ini yang dikenal dimiliki oleh Sandiaga Uno dan kawan-kawannya. 

Sedangkan, di kwartal pertama 2019, realisasinya sudah mencapai 600.000. Sehingga produksi emas tersebut ternyata naik dari jumlah yang ditargetkan. 

Peningkatan produksi ini didukung dengan adanya peningkatan produksi pada lapisan oksida di tambang Tujuh Bukit, yakni dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton.

Perusahaan tambang emas terbesar yang berikutnya adalah Antam, dengan sempat menargetkan produksi emas di tahun 2019 sebesar 180.000 hingga 200.000 oz. Sedangkan realisasinya rupanya bisa mencapai 2 ton emas.

Namun ANTM tidak hanya di emas, juga nikel. Sehingga sentimennya cukup variatif jika untuk saham. 

Cadangan dan Sumber Daya Emas

Selanjutnya, kita akan menyimak jumlah cadangan dan sumber daya emas yang dimiliki tambang-tambang terbesar tersebut. Yang pertama adalah ANTM atau PT Aneka Tambang di tambang Pongkor, Jawa Barat, yang memiliki cadangan emas logam sebesar 19 ton, dengan total sumber daya 42 ton. 

Dalam public expose pada tahun 2018, raksasa perusahaan emas di Indonesia tersebut juga menyebutkan bahwa cadangan dan sumber daya logam yang dimiliki oleh ANTM atau ANTAM ini hanya sekitar 1% dari perolehan nasional. 

Kemudian ada BMRS, dengan cadangan emas sebesar 17 ton dan sumber dayanya sebesar 31 ton emas. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu dari grup Bakrie di bawah BUMI. 

Selanjutnya ada PSAB, dengan cadangan logam emas sebesar 136 ton atau setara dengan 4,8 juta oz per akhir tahun 2018. 

Selanjutnya adalah MDKA, yang memiliki cadangan emas hingga 32 ton, dengan sumber daya 866 ton. Kemudian ada juga SQMI yang menorehkan capaian cadangan hingga 3,26 juta ton. 

Namun cadangan tersebut tercatat dalam bentuk bijih logam. Sedangkan dalam laporan tahunannya menyatakan bahwa 1 ton bijih emas mengandung nilai rata-rata kadar emas sebesar 7,7 gram.

Cadangan perusahaan tambang emas terbesar berikutnya adalah United Tractors atau UNTR, yang membukukan total cadangan emasnya sebesar 128 ton, atau setara dengan 4,5 juta oz per tahun, sedangkan jumlah sumber dayanya mencapai 230 ton. Di sinilah mengapa banyak yang investasi di UNTR.

perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia

Daya Saing Pertambangan Indonesia

Nah, jika cadangan dan sumber daya emas kita banyak dari emiten-emiten yang bergerak di sektor pertambangan tersebut, lalu bagaimana dengan daya saing pertambangan dan realisasi investasi di sektor pertambangan? 

Ternyata, daya saing pertambangan kita masih di bawah rata-rata Asia. Di mana skor rata-rata pertambangan Asia adalah sebesar 40, sedangkan skor Indonesia adalah 20. 

Sedangkan realisasi investasinya, di tahun 2014 adalah sebesar 53,3 triliun rupiah, kemudian naik di tahun 2015 menjadi 54,2 triliun rupiah. Di tahun 2016, realisasi investasi tersebut mengalami penurunan menjadi 43,6 triliun rupiah.

Setelah itu, di tahun 2017, terjadi peningkatan yang cukup signifikan, menjadi 79,1 triliun rupiah, dan 73,8 triliun rupiah di tahun 2018. Cukup menarik menjadi informasi bagi para investor. 

Kesimpulannya, Indonesia masih di bawah rata-rata dari negara lain karena investasi yang masih begitu-begitu saja dan tumpang tindih, meskipun cadangan emas milik raksasa perusahaan emas di Indonesia tersebut melimpah.

Sumber informasi dari CNBC, berikut linknya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *