Prospek Batu Bara di Masa Depan | Optimis Tapi…

Prospek batu bara di masa depan memang patut was was. Bagaimana tidak, baru-baru ini pemerintah menghentikan dua belas proyek pembangkit listri tenaga uap. Di mana biasanya menjadi objek dari pasar batu bara di Indonesia.

Hal ini tentu saja akan memberikan tanda tanya bagi saham batu bara yang ada di pasar modal. Apakah akan mampu terus berkembang. Atau sudah tidak ada lagi prospek batu bara di masa depan. Kami akan membuat analisa sederhana berdasarkan rangkuman informasi yang beredar di internet.

Manfaat Batu Bara di Dunia

Batu bara dikenal sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik. Penggunaan batu bara dikarenakan memiliki harga yang cukup murah dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti minyak, atau energi baru dan terbarukan.

Sedangkan listrik merupakan penggerak daripada industri di sebuah negara. Karena itulah penggunaan batu bara cukup besar di dunia. Apalagi negara-negara produsen semacam China dan Amerika, keduanya dikenal sebagai pengguna batu bara terbesar di dunia.

Di sinilah mengapa prospek batu bara di masa depan jika mengacu hal ini akan terus cerah. Karena negara-negara berkembang pun mulai menjadi konsumen batu bara, seperti India, Iran, serta beberapa negara lainnya.

Masalah Penggunaan Batu Bara

Masalahnya ketika berbicara prospek batu bara di masa depan adalah masalah yang ditimbulkan cukup banyak. Di antaranya adalah batu bara akan menghasilkan karbon hitam dalam jumlah banyak ketika dibakar. Batu bara memang dikenal sebagai bahan bakar paling kotor.

Karena hal ini maka menjadikan bumi menjadi lebih panas. Merusak lapisan bumi, menyebabkan pemanasan global serta membuat stabilitas alam akan terganggu. Di sinilah dunia mulai menggeliat untuk menekan penggunaan batu bara lebih minimal.

Jika hal ini tidak dilakukan maka suhu bumi akan semakin panas, dan menjadikan kenyamanan hidup manusia di dunia menjadi semakin berkurang. Inilah pangkal masalah prospek batu bara di masa depan.

Langkah Kongkrit Dunia

Beberapa langkah kongkrit sudah dilakukan oleh dunia. Di antaranya adalah adanya kesepakatan iklim paris pada tahun 2015, di mana salah satu tujuannya adalah menjaga peningkatan suhu global hingga di bawah 2 C, atau sekitar 1.5 derajat celcius.

Langkah lain lebih serius juga dilakukan, tujuh negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia, atau yang dikenal dengan G7 membuat kesepakatan untuk menghentikan pembiayaan terhadap proyek-proyek energi fosil seperti gas, dan batu bara.

Bahkan mereka memiliki target pada akhir tahun 2021 agar investasi di pembangkit listrik tenaga batu bara dihentikan. Tentu ini langkah yang cukup serius untuk industri batu bara dunia.

Prospek batu bara di masa depan
pixabay.com

Prospek Batu Bara di Masa Depan

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah batu bara benar-benar dihentikan? Kenyataannya tidak demikian. Negara besar semacam China, Amerika, dan India masih menggunakan batu bara karena dikenal murah.

Hanya saja tekanan dunia akan mulai memperkecil peran batu bara. Paling tidak tidak secarah dulu. Terutama penggunaan PLTU di dunia yang sudah mulai berkurang. Rata-rata negara besar sudah menggunakan energy baru dan terbarukan.

Bahkan Wood Mackenzie, lembaga riset ternama di dunia menyampaikan, bahwa masa Keemasan Batu Bara Akan Berakhir Mulai 2027. Artinya meskipun dalam waktu dekat belum sunset, tapi prospek batu bara di masa depan sudah mulai pudar.

Batu Bara di Indonesia

Memang hal unik terjadi di Indonesia. Saat negara lain sudah mulai menghentikan, Indonesia justru berupaya untuk melestarikan. Memang caranya tidak langsung, lebih kepada gasifikasi. Yaitu mengubah batu bara menjadi gas. Istilah katanya lebih kepada optimalisasi hilirisasi batu bara.

Plus di tahun penuh dilemma tentang UU Cipta Kerja, salah satu kebijakan yang tertuang adalah penghapusan Fly Ash dan Bottom Ash dari daftar jenis limbah yang berbahaya dan beracun. Peraturan ini tertuan dalam turunan UU Cipta Kerja.

Langkah Emiten Batu Bara

Tapi dengan keadaan prospek batu bara di masa depan yang kian kompleks, beberapa emiten batu bara di Indonesia sudah mengambil langkah strategis. Di antaranya adalah, bagaimana Adaro sudah masuk ke industri pembangkit listrik.

Kemudian untuk UNTR yang dikenal di sektor batu bara sudah mulai masuk ke sektor pertambangan emas. Hal ini tentu saja sebagai langkah penuh antisipasi. Begitu juga dengan BUMI yang memiliki anak usaha di sektor emas yaitu BRMS. Serta beberapa langkah antisipatif emiten batu bara lainnya.

Dengan kata lain semua sudah mengantisipasi masa senja industri batu bara. Meskipun nantinya di Indonesia tetap menjadi kebutuhan, tapi dunia sudah mulai menutup pintu dan menekan.

Prospek Saham Batu Bara 2021

Melihat prospek batu bara di masa depan, tentu sangat berpengaruh pada pola investasi kita di pasar modal. Kami sendiri sudah mulai wait and see terhadap beberapa emiten batu bara. Hal ini karena beberapa hal.

Pertama, meskipun harga batu bara dunia (acuan Newcastle) sedang naik tinggi di tahun 2021, yaitu menyentuh angka 120-an, dibandingkan dengan tahun 2020 yang menyentuh angka hingga di bawah 60, tapi anehnya saham batu bara justru naiknya biasa saja.

Contoh PTBA, berada di kisaran 2100-2400. Tidak sebanding ketika dulu batu bara di harga tersebut yang menyentuh sampai lebih tiga ribuan. Begitu juga dengan ITMG. Bahkan ADRO masih di angka 1.210. Padahal harga batu bara sedang setinggi langit.

Artinya semua investor belum mau masuk ke batu-bara. Semua sedang berpikir kepada energi baru dan terbarukan. Oleh sebab itu kamipun belum masuk ke Industri batu bara dalam jangka waktu dekat. Prediksi kami, kalau di saat harga sekarang masih di angka tersebut, (PTBA 2100-an), maka ketika harga batu bara jeblok, harganya bisa turun di bawah 2000-an.

Semua kembali kepada Anda. Menurut kami prospek batu bara di masa depan tidak menggairahkan. Seperti industri rokok yang sedang mengalami titik penurunan, seperti yang pernah kami bahas di sini.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Copas Ya