Saham Bank Digital | Pola Lama Mencari Mangsa

Saham bank digital bergerak liar dalam dua bulan terakhir. Terutama bank-bank kecil yang memang sudah mendeklarasikan diri sebagai bank digital. Di sisi lain bank-bank besar senyap, terutama bank buku IV. Ada drama apa sebenarnya?

Ini yang akan kami ulas. Mengapa saham bank digital begitu liar? Di sisi lain kalau diperhatikan baik-baik, mengapa bank besar justru mengalami masa bearish atau sideway yang panjang. Apakah benar bank digital memiliki efek besar.

Pengertian Bank Digital

Bank digital sebenarnya adalah layanan perbankan yang bisa dilakukan melalui online sekaligus melalui smartphone. Sehingga nasabah bisa mengakses banyak fitur dan layanan cukup mudah dalam satu genggaman.

Kalau saat ini untuk mendaftar sebagai nasabah harus datang ke bank, nantinya tidak perlu demikian. Kalau Anda familiar dengan gopay, dan lain sebagainya, akan mirip dengan model tersebut. Sehingga nasabah tidak terbatas dengan geografis.

Maka ke depan adalah pertarungan layanan, aplikasi, dan kemudahan dalam akses. Sehingga persaingan akan terbuka dengan lebar antara satu bank dengan bank yang lainnya. Inilah mengapa bank kecil bisa mengalahkan bank besar.

Dan hukum di era digital sekarang adalah siapa yang lebih lincah dia yang menang. Bukan siapa yang lebih besar dia yang berkuasa. Sehingga saham bank digital yang banyak dihuni bank-bank kecil meroket sadis.

Bank Digital di Indonesia

Mengutip dari Investor Daily, ada izin tertentu ke OJK yang harus dipenuhi untuk mengajukan menjadi bank digital penuh, atau hanya transformasi dari bank lama menuju bank digital. Di sinilah awal mula saham bank digital bergerak liar.

Bank yang sudah fully digital adalah Jenius (BTPN), Wokee (Bukopin), Digibank (DBS), TMRW (UOB), Jago (Bank Jago). Nah saham bank digital inilah yang bergerak sangat liar di pasar modal. Dengan catatan mereka baru memulai, bukan sejak lama sebagai bank digital.

Artinya kalau bicara secara kinerja dan fundamental, kita masih belum mengetahui lebih jauh. Seperti umumnya fenomena dot com yang riuh. Bisa jadi oke, bisa jadi sebaliknya. Ini adalah demam saham, bukan demam kinerja.

Bank Besar Transformasi Digital

Apakah bank besar tinggal diam? Tidak. BCA sudah mulai transformasi, iklan sudah mulai bermunculan. Ada lagi BRI Agroniaga, serta bank-bak lainnya tidak tinggal diam dengan tren transformasi ini. Seperti bank BNI, bank Danamon, serta bank buku IV lainnya. Kalau ingin tahu saham Bank Buku IV siapa saja, klik di sini.

Bank besar memiliki keuntungan pada aspek nasabah yang sudah dimiliki. Tinggal disosialisasikan saja sehingga kemudian bergeser menggunakan aplikasi digital dengan segala perangkatnya. Nasabahnya sudah ada.

Apalagi bank bukanlah seperti aplikasi lainnya. Tempat menitipkan uang. Bank-bank populer memiliki nilai tambah pada kepercayaan yang sudah didapatkan dari nasabahnya. Bisa dikatakan tidak perlu kerja dua kali.

saham bank digital

Pertarungan Bank Digital

Sebenarnya pertarungannya di mana? Jawabannya bank digital dilakukan demi menarik generasi millennial. Mereka menyukai yang super praktis, tidak ribet, serta dalam genggaman. Apalagi jumlah generasi millennial sangatlah besar.

Namun patut dipahami juga, penelitian dari Luno and Dahlia Research menyebutkan bahwa 69% dari respondennya menyatakan bahwa generasi millennial tidak menyukai menabung. Sebabnya adalah kegemarannya dengan gaya hidup, dan menyukai impulse buying, promo-promo cashback.

Maka kami menyimpulkan, bagi kita sebagai investor, bank digital akan menghadapi tantangan hebat. Ingat kasus penyedia layanan pembayaran. Mulai dari Ovo, Go Pay, dan Dana. Tapi pertanyaan besar, siapa yang paling Berjaya?

Jawabannya adalah e toll. Mungkin Anda tertawa dengan jawaban ini. Tapi efek domino e tool yang berbasis bank-bank besar cukup luar biasa. Sekarang parkir sudah pakai e toll. Belanja juga bisa kok pakai e toll. Ovo, Go Pay, hanya dimanfaatkan kaum millennial untuk mendapatkan diskon.

Prospek Saham Bank Digital

Menurut kami ini adalah permainan para pemain besar di saham. Itu hal biasa. Isu besar dimainkan. Dulu awal mula covid adalah isu emas, ANTM jadi primadona, sekarang bandar sudah pindah. Ke bank digital. Juga dimainkan.

Tapi menurut kami saham Bank Digital sudah menemukan titik sideway. Karena pergerakannya berbasis isu. Bukan berbasis fundamental. Isu itu sudah pergi. Nantinya akan berpindah ke isu yang lain. Bisa jadi bank besar yang sebelumnya dikuras dulu untuk mendapatkan harga bawah, selanjutnya mendapatkan giliran untuk dinaikkan.

Bandar cukup mudah pindah gorengan. Tinggal dihembuskan di media, tranformasi digital bank besar sudah datang. Nah loh, saham bank digital yang ditempati oleh ritel bisa longsor seketika. Faktanya, pada saat tulisan ini dibuat, akumulasi bank besar di harga bawah sedang terjadi.

Bagi Anda trader yang mengikuti arus tren. Pasti sudah memahami pola demikian. Namun tulisan kami di sini hanya ingin mengingatkan, saham bank digital berbasis momentum. Yang artinya bisa hilang. Karena bukan berbasis kinerja. Belum terbukti laba bagus, dan lainnya. Tinggal butuh sentiment negative saja untuk mengembalikan ke harga wajarnya. Patut waspada.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *