Saham Bukalapak | Fenomena di Balik Tanda Tanya

Saham Bukalapak sudah melantai di bursa dengan kode saham BUKA. Saham ini menurut kami sangat fenomenal karena di hari pertama sudah mengalami auto reject atas, bahkan hari kedua pun sudah mengalami hal yang sama. Tapi kemudian sesi kedua longsor.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah kinerja Bukalapak memang istimewa sehingga memiliki daya tarik yang luar biasa di pasar modal? Atau hanya sebatas pemanis buatan semata. Karena saham baru IPO belum diketahui kinerjanya, maka kami akan analisa dari beragam sisi.

Fenomena Saham IPO

Perlu diketahui jika saham IPO pada umumnya selalu mengalami auto reject atas jika nama perusahaannya cukup terkenal. Jika tidak, biasanya akan mengalami kenaikan yang tinggi, bisa sampai di atas sepuluh persen dalam sehari. Seperti saham BUKA.

Karena kebiasaan inilah saham IPO diburu banyak orang. Mindsetnya adalah, harga yang ditentutakan masih pas, ketika dapat dana dari IPO dia akan melakukan ekspansi atau apalah, yang kemudian membuat kinerjanya menjadi lebih baik.

Bukalapak Jualan Online

Dulu waktu awal-awal jualan online, Bukalapak merupakan salah satu platform jual beli yang digemari oleh banyak UKM. Konsepnya memang baru, hadir sebagai penjamin bagi penjual dan pembeli. Sehingga uangnya tidak akan menguap ketika membeli di online.

Bukalapak juga mampu bertahan di tengah gempuran e commerce yang lain. Harus diingat, beberapa sudah banyak yang tumbang. Entah diakuisisi atau memang karena kalah. Ingat Toko Bagus, yang kemudian diakuisisi menjadi OLX.Com.

Ada juga yang tumbang seperti Cipika besutan Indosat Ooredo, atau MatahariMall.com yang melebur ke Matahari.com. Bisa dikatakan dengan populasi masyarakat Indonesia yang cukup banyak, maka gempuran e-commerce luar biasa. Namun semua silih berganti. Bukalapak.com salah satu yang mampu bertahan. Hingga saham Bukalapak muncul di bursa efek Indonesia.

Posisi Bukalapak di Indonesia

Sebelum kami memaparkan data yang berasal dari CNBCIndonesia, kami ingin menyampaikan pengalaman sebagai pengguna e-commerce. Kami pernah menggunakan Bukalapak yang kemudian kami akhirnya berpindah ke platform lainnya.

Pada waktu itu, mungkin dua tahun yang lalu, kami sebagai penjual buku, banyak dari konsumen yang menginginkan untuk memakai Tokopedia. Sehingga seperti kebanyakan penjual online, kita tinggal buka akun saja di toko sebelah.

Memang benar, TokoPedia lebih ramai dan banyak dikunjungi pembeli. Sebagai pengguna kami menikmatinya. Toko online memang sangat berdasar pada pengalaman pengguna. Mereka yang menentukan.

Bahkan sekarang posisi Tokopedia pun sudah bergeser. Konsumen sudah banyak pindah di Shopee. Alasannya sederhana, banyak gratis ongkirnya. Memang benar, kami mengalami masa di mana Shopee gratis ongkir. Bagaimana dengan Tokopedia, masih ramai, tapi sekarang tidak seramai Shopee.

Pada akhirnya apa yang kami lakukan. Hanya fokus di shopee saja untuk jual beli. Karena pengguna banyak yang menggunakan toko online yang satu ini. Konon Tokopedia juga masih banyak digunakan. Tapi kami berdasarkan pengalaman dan permintaan pengguna.

Shopee memang memberikan promo yang gila. Iklannya juga luar biasa, di televisi sepertinya tidak pernah berhenti berperang antara Shopee dan Tokopedia. Pertanyaan besarnya adalah, Bukalapak di mana? Inilah yang selanjutnya menjadi pertanyaan saham Bukalapak.

SahamHijau.com
saham bukalapak

Prospek Saham Bukalapak

Bagaimana dengan prospek saham Bukalapak. Maka kami akan lansir data dari CNBC yang diterbitkan pada tahun 2020 yang berbasis riset Goldman Sach pada Maret 2020. Intinya pimpinan e-commerce adalah Tokopedia dan Shopee. Ini memang yang kami rasakan di pengguna.

Alasannya, Shopee lebih kuat di basis pengguna Wanita. Istri saya juga cinta banget kalau ada suara “Shopee”. Kedua, Shopee unggul di perdagangan dengan barang yang bersumber antar negara. Memang betul, banyak barang impor.

Sedangkan Tokopedia memiliki basis digital goods. Sebenarnya keuntungan lebih rendah, tapi basis konsumennya banyak sekali. Intinya antara keduanya memiliki basis pelanggan masing-masing yang kuat.

Pertanyaan paling besar adalah, Bukalapak ada di posisi mana? Ini yang patut menjadi pertanyaan. Menurut Goldman, modelnya cenderung business to business. Menurut kami pribadi, Bukalapak ada di posisi yang mengkhawatirkan.

Tapi saya tidak terkejut dengan performa saham Bukalapak yang menggila, karena memang di bursa semua bisa terjadi. Saham yang jelek pun harganya bisa naik berkali-kali. Jadi kalau naik berlipat-lipat pun sangat mungkin terjadi.

Rekomendasi Saham BUKA

Kalau Anda tanya, bagaimana menurut kami terkait saham Bukalapak? Kami adalah tipe yang belum pernah membeli saham IPO, alasannya, saham yang baru masuk belum terlihat kinerjanya. Meskipun memang sangat menggiurkan secara keuntungan.

Begitu juga dengan Bukalapak yang memang belum terlihat kinerjanya. Apalagi di konsumen, penggunanya menyusut, plus strateginya biasa. Jarang ada iklan bukalapak di televisi, youtube, website, yang sering Tokopedia atau Shopee.

Ketiga, kami sangat khawatir fenomena bubble dot com yang pernah terjadi di Amerika bisa menimpa di Indonesia. Yaitu perusahaan berbasis website yang digembor-gemborkan luar biasa, tapi ternyata kinerjanya mlempem. Akhirnya semua menjual sahamnya. Kami pernah mengulas fenomena ini di sini.

Memang bisnis aplikasi, atau semacamnya banyak strategi yang bermodel membakar uang. Promonya gila, diskonnya, besar. Pertanyaan besar, lalu darimana mendapatkan keuntungan? Dari valuasi yang dijual dari satu investor ke investor lainnya.

Secara real saja pengguna Bukalapak dari Google Play, yaitu 50 juta +, dengan rating 3+. Sedangkan Shopee sudah mencapai 100 juta +, dengan rating sama 3+. Dari sini mudah sekali menilai aplikasi, mana yang lebih banyak dipakai.

Adapun berkaitan dengan saham Bukalapak, menurut kami kemungkinan akan turun hingga di bawah harga IPO. Karena di hari pertama dan kedua, asing sudah jual bersih. Hari kedua lebih parah, net sell asing sudah mencapai 65 milyar. Tapi kami selalu berdoa, semoga saham Anda Hijau.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Copas Ya