Saham seumur hidup? Menurut kami perlu dipikirkan ulang bagi siapa saja yang ingin menyimpan saham dalam cukup lama terutama bagi Anda yang investasi di pasar modal Indonesia. Karena kondisi pasar modal Indonesia sangat berbeda.

Kami akan jelaskan mengapa kami menyampaikan jangan simpan saham seumur hidup. Tulisan ini berdasarkan pengalaman kami berkecimpung di pasar modal dalam jangka waktu beberapa tahun dan mengalami siklus stagnan, bahkan bearish sangat dalam.

Adakah Saham Seumur Hidup?

Di dunia pasar modal, salah satu rujukan dalam investasi adalah Warrent Buffet. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh investasi dunia dengan kiblat value investor yang memegang saham dalam jangka waktu sangat panjang.

Memang penyihir dari Omaha ini dikenal dengan prinsip, “Ketika Anda akan membeli saham, maka Anda pikirkanlah untuk memilikinya dalam jangka panjang.” Kalimat ini memang dibuktikan olehnya.

Ketika memegang American Express, Buffet rela menahannya sampai 28 tahun. Ada juga Wells Fargo yang dipegang hingga 32 tahun. Bahkan Coca Cola yang cukup terkenal juga dipengang sampai 33 tahun.

Pertanyaannya adalah apakah investor kawakan ini menyimpan saham seumur hidup tanpa berpikir menjualnya? Atau dia mengevaluasi portofolionya dan kemudian mengganti dengan saham lain?

Perlu diketahui, saat tulisan ini dibuat, di banyak media di sebutkan bahwa portofolio Warrent Buffet didominasi oleh saham Apple yang bergerak di bidang teknologi. Tidak lagi consumer good seperti dulu.

Artinya tidak benar jika kita memegang satu saham seumur hidup. Karena pasar modal adalah investasi dalam bisnis. Sedangkan bisnis memiliki sebuah siklus yang harus dipahami.

Belajar dari Unilever dan HMSP

Bagi yang masih berpikir tentang ada saham seumur hidup, mari melihat contoh dari saham HM Sampoerna dan Unilever. Keduanya merupakan saham blue chip, LQ45, kurang apalagi. Labanya tumbuh signifikan. Juga bagi dividen.

Kalau newbie pasti dinasehatin untuk pegang saham yang aman seperti dua big caps tersebut. Tapi apa daya cerita berkata lain. HMSP digebuk habis, dari yang dulunya main di 3000-an, sekarang tersungkur di 1000-an.

Unilever yang dikenal digdaya sebagai produsen barang-barang yang dibutuhkan seumur hidup malah hancur lebur dibuang-buang investor. Yang tadinya bermain antara 7000-8000 kini hancur lebur di 4000-5000-an.

Maka kami menyimpulkan jangan simpan saham seumur hidup. Meskipun saham tersebut memberikan dividen besar sekalipun, kami tidak menyarankan, karena setiap saham memiliki siklus seperti bisnis yang dijalaninya.

Siklus Saham Siklus Perusahaan

Saham seperti laiknya perusahaan memiliki empat siklus. Pertama adalah pengenalan, kalau di saham bisa dikatakan sebagai IPO. Dalam fase ini kadang ada yang langsung naik, ada yang langsung turun, ada juga habis naik langsung turun seperti saham Bukalapak.

Ada fase kedua yaitu pertumbuhan. Perusahaan pasti mengalami fase ini. Begitu juga dengan sahamnya. Ketika sedang tumbuh, maka kita akan menikmati pergerakan saham yang tumbuh ke atas juga.

Di fase ini alangkah lebih baik jika Anda memilikinya. Sehingga juga mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham. Tanda-tanda sedang tumbuh mudah, prospeknya cerah, pasar masih membutuhkan produknya.

Fase berikutnya adalah mature, atau sudah matang. Di sinilah biasanya saham tersebut mengalami sideway. Apakah naik atau turun, masih bingung. Karena laba tidak tumbuh, tidak juga turun. Hal ini pernah dialami oleh HMSP. Di fase ini, lebih baik kita keluar jika memang tidak ada prospek.

Fase terakhir adalah decline, penurunan. Pada fase ini masa depan ada, tapi lebih banyak suram daripada cerah. Usaha rokok memang mulai mengalami penurunan. Terutama banyaknya kebijakan, juga kampanye anti rokok dan berpindahnya ke vape.

Kalau kita memang saham yang demikian lebih baik keluar. Kalaupun ternyata mantul, biasanya itu adalah cara big money untuk keluar dari sebuah saham yang mengalami fase penurunan. Oleh sebab itu lebih baik keluar.

saham seumur hidup
pixabay.com

Waktu Ideal Memegang Saham

Di saham harapan kita hanya dua, apakah Anda mengincar dividen, atau mengincar capital gain. Tapi pernyalah jika sebenarnya lebih banyak yang mengharap capital gain daripada dividen.

Adapun dividen sebenarnya adalah nilai tambah dari waktu yang sudah kita luangkan untuk menunggu kenaikan saham. Sehingga banyak yang setia dengan satu saham.

Ilustrasinya adalah, Anda pilih mana, dividen setiap tahun 10% tapi sahamnya tidak naik, atau capital gain seratus persen selama lima tahun? Kalau saya memilih capital gain selama lima tahun. Kemudian jual untuk merealisasikan keuntungan. Begitulah saham.

Meskipun banyak website merekomendasikan saham seumur hidup, tapi kalau kami berpendapat harus memilih waktu untuk menjualnya. Karena suatu waktu ada masa decline dari perusahaan tersebut.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Copas Ya