Sektor Cerah di Tahun 2023 | Ini Analisa Kami

Jika Anda investasi di pasar modal dalam jangka waktu lebih dari tiga tahun pasti memahami bahwa setiap tahun ada sektor cerah penopang gerak IHSG.

Contoh di tahun 2021, atau di masa covid, sektor kesehatan sangat menggila. Saham KAEF yang awalnya dihargai Rp800-an naik berlipat-lipat sampai di harga 8000-an.

Di tahun 2022 adalah tahunnya saham energi, lebih tepatnya batu bara. Di mana kebutuhan energi sangat tinggi, sehingga harga batu bara menggila.

Lalu sektor apa yang akan menjadi andalan di tahun 2023? Menurut kami ada dua, sektor properti dan sektor hulu migas. Tapi kami akan membahas sektor hulu migas.

Mari kita teliti sama-sama.

Saya sengaja membuat tulisan ini setelah muncul laporan keuangan kuartal pertama tahun 2023. Karena untuk melihat bukti sektor yang memiliki kinerja bagus di tahun 2023.

Kita lihat sektor batu-bara, rata-rata mengalami penurunan karena memang harga batu bara yang sudah jatuh dari puncaknya. Sehingga berdampak pada kinerja emiten batu bara. Artinya sedang sunset.

Kemudian saya buka sektor energi lain, mengingat energi merupakan pokok dari pergerakan ekonomi dunia. Di situlah saya menemukan beberapa perusahaan hulu migas memiliki kinerja yang memuaskan. Nanti saya bahas beberapa sahamnya. Tapi mari lihat beberapa alasannya.

Kebutuhan Minyak di Indonesia

Perang Rusia dan Ukraina ternyata memberikan dampak sangat serius terhadap harga minyak dunia. Faktanya hingga tulisan ini dibuat, minyak subsidi sudah dihargai Rp10.000. Sedangkan non subsidi Pertamax sudah di angka Rp13.000 sekian.

Masalah utamanya adalah, konsumsi BBM Indonesia merangkak naik. 2021 saja sudah meningkat 5.2%. Lebih valid lagi bisa periksa jumlah data kendaraan di Indonesia. Semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Padahal produksi minyak Indonesia setiap tahun lebih sering justru menurun. Efeknya sangat bergantung kepada impor. Bisa dilihat dari tabel.

Di sinilah kenapa motor listrik, atau kendaraan listrik digenjot habis-habisan, sampai diberikan subsidi dengan jumlah besar. Alasannya adalah BBM kita memang semakin kritis.

Tanda lain adalah bagaimana pemerintah menggenjot program B40, yaitu 40% campuran dari CPO untuk minyak. Bahkan akan terus ditingkatkan. Kalau tidak melakukan ini, inflasi bisa ngeri. Apalagi OPEC seperti jadi geng sendiri demi mempertahankan hegemoni kerajaan minyaknya.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah listrik dan program B45 dan seterusnya bisa cepat menyelesaikan kebutuhan minyak nasional? Tidak.

Listrik sangat mahal, bukan masalah kendaraannya, tapi menciptakan ekosistemnya. Program CPO juga butuh proses. Tidak bisa setahun dua tahun langsung moncer.

Apa yang paling bisa dilakukan oleh pemerintah? Jawabannya adalah menggenjot eksplorasi sumur-sumur baru agar produksi minyak dalam negeri semakin tinggi.

Ini paling masuk akal, karena Indonesia memiliki wilayah potensial yang memiliki sumber minyak dan mungkin belum banyak dieksplorasi. Sehingga langkah terbaik adalah menemukan wilayah sumber minyak baru.

Tanda Kebangkitan Sektor Hulu Migas

Sebenarnya sektor hulu migas sudah menjadi perhatian pemerintah karena masalah yang sudah kami paparkan di atas, namun demikian di tahun 2023 secara eksekusi akan lebih menjanjikan.

Faktanya adalah Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, mengungkapkan bahwa nilai investasi di tahun 2023 ditargetkan mencapai US$ 15,5 Milyar. Nilai ini meningkat 26% dari tahun sebelumnya.

Bahkan nilai investasi di atas jauh lebih tinggi dari investasi global yang hanya berkisar 6.5%. Tindakan ini dilakukan karena tergolong sebagai Energy Security. Kalau tidak dilakukan bahaya.

Jika ini benar-benar terjadi, ataupun meleset dan tercapai hanya 70% saja dari angka di atas, tentu sudah sangat besar, yaitu mengalami kenaikan 18%. Imbas besarnya adalah, bisnis di sektor migas akan terdampak sangat signifikan.

Maka emiten dengan bisnis kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan Migas, produksi/ eksploitasi, lifting minyak bumi atau gas alam, atau bahkan distribusi akan terdampak langsung.

Fakta di Beberapa Emiten Hulu Migas

Untuk menunjang pendapat kami di atas, mari kita lihat kinerja beberapa emiten di sektor hulu migas. Kami tidak cantumkan semua. Pertama emiten MEDC, di kuartal pertama 2022 meraih laba 1,293 B. Sedangkan di tahun 2023 berhasil meraih 1,229 B. Beda tipis.

APEX di kuartal pertama 2022 meraih laba 11 B. Sedangkan di tahun 2023 berhasil meraih 15 B. Berhasil melonjak sampai sekitar 40%.

RUIS di kuartal pertama 2022 meraih laba 11 B. Sedangkan di tahun 2023 berhasil meraih 5 B. Turun setengahnya.

ELSA di kuartal pertama 2022 meraih laba 75 B. Sedangkan di tahun 2023 berhasil meraih 115 B. Berhasil meraih kenaikan signifikan hingga sekitar 50%.

Jika melihat data di atas, maka yang langsung berhubungan dengan hulu migas yang berhasil mendapat gurihnya pendapatan, yaitu ELSA dan APEX. Rata-rata bergerak di pengeboran dan eksplorasi migas.

Sedangkan MEDC masih stagnan. Apalagi RUIS yang bergerak di instalasi jasa teknik dan bidang teknis minyak, gas dan energi; Sertifikasi mutu Jasa; layanan survei lapangan minyak, gas dan energi, dll, tidak terdampak langsung.

KODEQ1 2022Q1 2023
MEDC1,293 B1,229 B
APEX11 B15 B
RUIS11 B5 B
ELSA75 B115 B

Kesimpulan

Jika melihat data di atas bisa disimpulkan bahwa sektor hulu migas bisa menjadi salah satu yang berpotensi meraih laba signifikan di tahun 2023. Terutama karena pemerintah memang menggenjot untuk kebutuhan energi nasional.

Bagi Anda investor di pasar modal, saran kami coba memegang salah satu emiten yang memiliki valuasi masih murah, atau harganya belum beranjak naik meski kinerja memuaskan. DYOR.

Related Posts

One thought on “Sektor Cerah di Tahun 2023 | Ini Analisa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Copas Ya